<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3592642307819684960</id><updated>2011-08-19T07:22:57.133-07:00</updated><title type='text'>Kumpulan Cerpen</title><subtitle type='html'>talking about "Cita Cerpen"</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kumcerpen.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3592642307819684960/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcerpen.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>kumpulan cerpen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11437539687202369873</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3592642307819684960.post-3354602502649351784</id><published>2009-06-04T06:27:00.000-07:00</published><updated>2009-06-04T07:00:39.918-07:00</updated><title type='text'>Waktu, Dia dan Kisah.</title><content type='html'>Oleh : Rifky Santiago&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Perlahan bunyi kursi itu menyeruak diantara keheningan, mentari baru sejenggal naik kpermukaan, tapi begitu raut wajah kuusap, terlintas dalam pikiran bahwa aku sendiri...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunyi itu menimbang, mengalun, dan menyerbu telinga. Memunculkan rasa takut teramat sangat. Aku berdiri dipojok itu, memandangi hamparan rumput yang terbentang tak begitu luas. Kutengok kembali,  ruangan itu, inci demi inci, tak kutemukan sosok yang ingin menghampiri. Tapi denyut nadi, degupan jantunglu semakin memburu dengan waktu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rak buku yang berjarak setengah kaki dariku, bergoyang. Tampak keanehan ini teramat sangat, aku yang linglung lantas berdiri, tak tahu apa yang ku pikirkan saat itu. Kupecahkan satu demi satu vas bunga yang ada di hadapan ku. Tanganku secepat angin, sekilas menyambar beberapa. Aku kembali berkoar tak jelas, telingaku bahkan tak mendengar dengan baik teriakanku. Teriakan itu jelas histeris, hingga energiku terkuras habis. Kurebahkan, tubuhku ke kasur dan terhenyak sesaat memandangi langit-langit kamarku yang putih lagi bersinar. Lalu kemudian tenggalam dalam tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                 ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu hujan deras, malam yang teramat kelam. Tak ada bintang, bulan pun redup tertelan kabut. Desis air hujan mengalir keselokan. Hujan itu tampak biasa saja, ia tak membawa angin kencang, tak pula menuai badai. Ia tak menjadi banjir, tidak juga menghanyutkan rumah. Tetapi ketika itu, sosok itu berjalan dengan perlahan. Pandangannya terarah padaku yang berada diseberang jalan. aku  yang melihatnya lantas melambaikan tangan. Ia membalasnya, dengan lambaian yang agak kencang, serta di barengi dengan senyum tipis pertanda kehangatan dan, kedekatannya denganku. Sekelilingku, tak nampak seorang pun. jalanan itu sunyi. Padahal daerah itu merupakan lintasan tersibuk saat malam menjelang. &lt;br /&gt;Seketika ia berlari menghampiriku, ia melewati pembatas jalan. Sosok itu sangat ingin menghampiriku. ia bahkan rela, basah kuyup untuk menghampiriku.  Ia berlari, terus berlari, hampir mendekatiku. Sayup-sayup kulihat dari kejauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                 ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sirine mobil itu menyala, terdengar kepanikan disana-sini. Semua orang mengelu-elukan. Ada yang ternganga, termangu bahkan ada yang menangis. Mobil itu tetap melaju tanpa memperdulikan sekitarnya, ia terus saja melaju hingga kabut menutupi. Mobil itu bukan sedang mengangkut pencuri, juga bukan pemerkosa, mobil itu tidak sedang menahan seorang koruptor besar. ia berplat merah, berwarna putih, dan bertuliskan huruf kapital, yang kurang lebih bertuliskan A M B U L A N C E.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu suasana rumah sakit panik seketika. Dua orang berbaju putih tampak tergesa-gesa menghampiri, mereka membawa kereta dorong. mereka pula yang menurunkan korban dari mobil, sementara korban tertidur pulas dengan berwajah lugu.&lt;br /&gt;Tak lama berselang seorang paruh baya tampak menyarungkan baju putih dengan berjalan tergesa-gesa pula. Tampaknya, mereka berjalan menuju ruangan yang sama yang berada diujung lorong ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;                                              ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-demi satu orang berdatangan menghampiri rumah petak dipersimpangan itu. Aku memperhatikan dengan seksama, mataku lantas memergoki beberapa orang yang keluar dengan tersedu-sedu, menghapus genangan yang air yang tertumpah ruah di matanya. Aku kemudian melanjutkannya beberapa langkah dengan agak terbata-bata. Ketengok kembali dengan lirih. Suara yang tak asing kudengar. Lantutannya menghanyutkan, membuat merinding. Lantunan yang dibawakan jibril kepada manusia pilihan Tuhan. Beberapa orang duduk bersila, memangku, menengadahkan sebuah kitab. Aku tahu persis kitab itu. Beberapa yang lain mengenakan pakaian serba-hitam. Serta duduk mengelilingi bungkusan kain yang tergeletak tak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                              ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampailah saatnya aku pada akhir yang kelam. Terbata melihat rentetan kisah teramat pedih. Dia ada tapi dengan sendirinya sirna. Dia diam dan tak juga menyapa, pergi dan tenggelam dalam kabut hampa. Butiran itu hangat, tanah menggunduk dengan nisan yang terpampang putih dengan taburan bunga yang menyengat. Ia di kelilingi hamparan pohon maut dan berkelindan dengan alam. &lt;br /&gt;Aku terpaut dengan waktu, berlomba dengan alam, yang mengalir dengan lihai meninggalkan separuh kenangan. Aku pun tak ingin menjelaskan siapa yang pergi dan siapa yang di tinggalkan. Yang tersentak, terhenyak dan tersirat dalam benak ku hanyalah waktu, dia dan kisah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3592642307819684960-3354602502649351784?l=kumcerpen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcerpen.blogspot.com/feeds/3354602502649351784/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumcerpen.blogspot.com/2009/06/waktu-dia-dan-kisah.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3592642307819684960/posts/default/3354602502649351784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3592642307819684960/posts/default/3354602502649351784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcerpen.blogspot.com/2009/06/waktu-dia-dan-kisah.html' title='Waktu, Dia dan Kisah.'/><author><name>kumpulan cerpen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11437539687202369873</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3592642307819684960.post-7384440891210012186</id><published>2009-05-20T21:29:00.001-07:00</published><updated>2009-05-20T21:33:37.664-07:00</updated><title type='text'>Diary Tiara</title><content type='html'>   	&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt; 	&lt;title&gt;&lt;/title&gt; 	&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 2.4  (Linux)"&gt; 	&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oleh: Nasty Anwar&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;“&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;Tiara kecelakaan, dan dia ninggalin kita&lt;/i&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kata-kata Dara barusan membuat Rendy terhenyak, antara percaya dan tidak. Ia tertegun sebentar, berharap berita itu hanya isengan Dara dan Tiara yang kerap ngerjain  dirinya. Tapi… haruskah Rendy berpikir demikian? Sedang air mata Dara jelas menunjukan rasa kehilangan terlampau besar. Perlahan, isakan Dara mulai terdengar. Rendy mengamati &lt;i&gt;siluet&lt;/i&gt; wajah Dara. Segera cowok itu menundukan kepalanya dalam diam. Kedua kelopak matanya terasa berat. Ada yang mendesak ingin keluar dari mata indah itu, tapi Rendy berusaha menahannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;“&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Waktu Tiara di rumah sakit, dia meminta untuk nggak ngasih tau kamu. Biar kamu lebih fokus ke festival… dan aku sama sekali nggak bisa nolak permintaan itu. Maafin aku Ren…” Jelas Dara terbata-bata.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Rendy berusaha menenangkan Dara, meskipun suasana hatinya mulai terasa kacau. Kali ini Rendy tak mampu lagi menahan butiran-butiran kristal itu. Kedua pipinya mulai basah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sesaat Rendy dan Dara terdiam, membiarkan memori tentang Tiara bermain di benak mereka. Tiara yang bawel, lucu, penuh perhatian dan cantik. Tiara yang selalu memberi solusi saat masalah menerpa pribadi Rendy maupun Dara, Tiara yang… akh, semakin diingat semakin tak sanggup otak mereka mengulangnya. Sosok itu sudah tak ada lagi, selamanya!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Usai dapat mengendalikan diri, Dara pamit. Tapi sebelumnya, gadis berambut panjang itu memberikan sesuatu pada Rendy. Sebuah &lt;i&gt;diary&lt;/i&gt; berwarna biru–warna favorit Dara.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;“&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tiara nitip ini untuk kamu.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Malam menjatuhkan jubah hitamnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Rendy masih mematung di jendela kamarnya, menikmati ribuan bintang yang berkedip manja di langit Bandung. Bayangan Tiara berkelebat di benaknya. Rendy tahu, gadis itu sangat mengagumi bintang, dan Tiara nggak sekalipun membiarkan malam tanpa menyaksikan parodi bintang-bintang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;“&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tiap malam, kalo nggak mendung, aku pasti curhat-curhatan sama bintang-bintang,” kata Tiara suatu malam saat bertiga mereka ngobrol di taman depan rumah Dara.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;“&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oh ya? Curhat apa saja?” tanya Rendy penasaran.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;“&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mmm… &lt;i&gt;secret&lt;/i&gt;!”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;“&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tapi aku tau lho…” celetuk Dara.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;“&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Huss, jangan ngebongkar hal yang nggak perlu begitu.” Tiara melotot.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dara tertawa kecil, Tiara pun mengimbanginya dengan tawa lebar. Lantas keduanya mengumbar gelak tawa. Rendy tersenyum mengingatnya. Ada rindu yang menyergapnya begitu saja.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Rendy menutup jendela kamar dan mengenjot langkah menuju meja belajar. Tangannya meraih &lt;i&gt;diary&lt;/i&gt; biru yang menggeletak, dan mendekapnya hangat. &lt;i&gt;Diary ini untukku, ya ini pemberian terakhirnya&lt;/i&gt;. Perlahan, Rendy membuka lembar demi lembar. Isinya kisah biasa, cerita tentang kisah-kisah lucu mereka, dirinya, Dara dan Tiara. Rendy menyemat senyum sebentar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Rendy terkejut saat mendapati tulisan lain Tiara, Tiara naksir seseorang tapi dia nggak pernah ngomong ke aku? Penasaran mengiring Rendy menelusuri lembar-lembar berikutnya, tak ada petunjuk hingga meninggalkan lembar terakhir.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;Bedroom, 230808&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;Hai Diary-ku,&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;Aku lagi kangen banget nich sama “dia” hehehehe… tapi Dara bilang, aku nggak boleh cengeng. Iya juga sich, “dia” kan lagi berjuang keras di Jakarta, demi masa depannya dan juga band-nya. Aku senang akhirnya band-nya tampil juga di festival itu. Apalagi mewakili Bandung. Pasti pendukungya banyak. Aku nggak mau ganggu kosentrasinya. Hmmm…. Diary, lama-lama aku ngerasa makin sayang sama dia. Tapi aku nggak bisa ngungkapin semuanya. Aku hanya berani ngomong semuanya ke bintang, soalnya aku takut kalo Rendy tau aku suka sama dia, dia akan benci dan ninggalin aku. Persahabatan buat aku lebih sejati…&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;No&lt;/i&gt;! ini nggak mungkin.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tiara suka sama aku?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mendadak jantung Rendy berdegup nggak karuan. Tiara bercerita detil di halaman terakhir &lt;i&gt;diary&lt;/i&gt;-nya ini setelah dua hari Rendy berangkat ke Jakarta, tepat sehari sebelum kecelakaan itu. Tiba-tiba rasa sedih menyergap hati Rendy, membuat cowok itu memohon kepasrahannya–Tuhan aku mohon kembalikan Tiara. Permohonan konyol itu hanya tak akan pernah terwujud. Tiara tak akan pernah kembali.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Rendy menangis dalam diam, menggenggam &lt;i&gt;diary&lt;/i&gt; dengan rasa kehilangan. Tiara sudah pergi… pergi dengan membawa sepenggal rasa yang sejujurnya bisa dirasakannya. Rendy menyesal, tak sempat mengungkapkannya sebelum gadis itu pergi. Dan kini…&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mei ‘09&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tim Editor kumcerpen.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3592642307819684960-7384440891210012186?l=kumcerpen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcerpen.blogspot.com/feeds/7384440891210012186/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumcerpen.blogspot.com/2009/05/diary-tiara.html#comment-form' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3592642307819684960/posts/default/7384440891210012186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3592642307819684960/posts/default/7384440891210012186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcerpen.blogspot.com/2009/05/diary-tiara.html' title='Diary Tiara'/><author><name>kumpulan cerpen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11437539687202369873</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3592642307819684960.post-3081315395493894177</id><published>2009-04-26T20:11:00.000-07:00</published><updated>2009-05-01T06:41:23.076-07:00</updated><title type='text'>Sosok Sebuah Jendela</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CDataNet%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Comic Sans MS"; 	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:13.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:4.0cm 3.0cm 3.0cm 4.0cm; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;By: Ello Aristhosiyoga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27.9pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;Aku nggak tahu, akhir-akhir ini aku kerap termangu sendiri menatap jendela tiraiku. Bentuknya unik, menarik, bergaya &lt;i&gt;ghotic&lt;/i&gt; dengan aksen warna biru jingga (&lt;i&gt;wah… warna apa pula tuh&lt;/i&gt;!), dipadu lagi dengan &lt;i&gt;view &lt;/i&gt;yang tampak dari jendela, sebuah panorama yang lumayan menarik, &lt;st1:city st="on"&gt;padang&lt;/st1:city&gt; rumput yang luas menghijau &lt;i&gt;plus&lt;/i&gt; sebuah pondok yang kira-kira &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; kali lebih kecil dari villa yang sedang kutempati ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27.9pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Bukan itu saja motivasi utamaku betah berlama-lama di jendela lantai dua, namun sosok cantik dengan baju biru–yang seakan sepadan dengan warna jendela, menarik perhatianku. Meski nggak secantik Mischa Barton, atau Penelope Cruz sekalipun, namun menatapnya membuatku nyaman. Sosok itu sering hadir di taman pondok.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27.9pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Nyaris dua minggu sudah aku menginjakkan kaki di villa ini, villa baru yang dibeli Mama karena berhasil menerima &lt;i&gt;award&lt;/i&gt; dari sebuah perusahaan &lt;i&gt;marketing multilevel&lt;/i&gt; yang diikutinya. Kebetulan liburan akhir semesterku masih tersisa, kuluangkan saja untuk nyantai di villa. Pemandangan gunung, barisan sawah, lekukan sungai, ternak, kerbau sepertinya cocok untukku. Sekaligus menjauhkan kejenuhan mataku terhadap &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; yang begitu bising, penuh polusi, dan keramaian yang terkadang bagiku memuakkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27.9pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Penasaranku makin mencuat saat aku mendapati sosoknya kembali pagi ini. Aku bergegas menuju balkon untuk melihat lebih jelas wajah sosok itu. Derit langkahku melaju dan kini berdiri tepat menghadang. Aku setengah kelimpungan mencari sosok itu yang hilang beberapa menit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27.9pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Tiga menit berlalu aku kembali melihatnya berdiri, menyandar dinding pondok. Ia duduk termangu dengan topangan dagu. Entah apa yang terjadi. Mungkin ia sedang memikirkan sesuatu. Tadi kulihat jelas ia ceria–meski itu kesimpulan pribadi, dengan lenggokan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; yang manis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27.9pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Aku berniat untuk menyambangi pondok kecil di tengah pemandangan indah sawah. Dengan jiwa yang berapi-api aku mengatur langkah. Memakan waktu &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; menit sebelum akhirnya aku menyaksikan dengan dekat keadaan pondok. Wah… lingkungan pondok yang kulihat begitu manis, ternyata sedikit nggak keurus. Mungkin jarak yang begitu jauh menyamarkan pandangan atau mungkin saja sawah, sungai dan bukit pegunungan sekitar sengaja menutupi kekurangan dari pondok ini, hingga nggak terdeteksi mataku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27.9pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Aku menggeleng heran. Saat kakiku selangkah lebih dekat ke pondok itu, nggak kudapati dirinya. &lt;i&gt;Mungkin ia sudah berlalu masuk ke dalam pondok sejak tadi&lt;/i&gt;, aku berspekulasi. Aku memang kurang beruntung kali ini. “Aku harus bertemu dengannya,” janjiku kemudian dalam hati. Mungkin besok? Lusa? Atau sebentar… lah. Yup! benar, aku mesti lebih cepat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27.9pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;Dua hari sejak kedatanganku itu, nggak pernah sekalipun diriku menjumpai sosoknya dari balik jendelaku. Mungkin waktu yang salah, hingga penantianku berbuah nihil. Lelah juga bila seharian terus kutunggu, mending enakan makan atau nyantai apalah…. Lagipula tinggal sehari liburanku di sini. Bertengger di balik jendela bukanlah solusi yang tepat untuk saat ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27.9pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;“Kenapa? Bengong?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27.9pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Mang Diman–penjaga Villa keluargaku, mengagetkan lamunan aku. Aku kembali menatapnya setengah kagok. Diam-diam Mang Diman memperhatikan keadaan aku akhir-akhir ini. Keseringan bengong sendiri, pasti menarik perhatian orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27.9pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Jelas yang membuatku bengong nggak lain, sosok itu. Aku benar-benar nggak sabar dan mulai sigap kuungkapkan apa yang kualami dua minggu lebih ini. Mang Diman mengangguk-angguk sok ngerti saat kuceritakan semua. Ia tampak gagu mendadak saat kuceritakan bahwa aku kemarin berani mengunjungi pondok mungil itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27.9pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;“Pondok itu nggak berpenghuni lagi sejak tujuh bulan lalu. Menurut warga sini, seorang wanita pemilik pondok itu hilang begitu saja. Warga sekitar pun nggak tau kejadian yang sebenarnya,” cerita Mang Diman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27.9pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Aku terkesiap. Dan desahanku bermain fluktuasi, pantas saja sosok itu sering menghilang tiba-tiba.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27.9pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;“Barangkali yang kau lihat, warga sekitar yang kebetulan istirahat atau…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27.9pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Masa bodoh dengan omongan Mang Diman, sebab kini napasku makin memburu nggak karuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;The end&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3592642307819684960-3081315395493894177?l=kumcerpen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcerpen.blogspot.com/feeds/3081315395493894177/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumcerpen.blogspot.com/2009/04/sosok-sebuah-jendela.html#comment-form' title='17 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3592642307819684960/posts/default/3081315395493894177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3592642307819684960/posts/default/3081315395493894177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcerpen.blogspot.com/2009/04/sosok-sebuah-jendela.html' title='Sosok Sebuah Jendela'/><author><name>kumpulan cerpen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11437539687202369873</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>17</thr:total></entry></feed>
